Minggu, 19 April 2015

Cerita Dewasa : "Hilangnya Perawanku"

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami berdua 
sampai di perumahan tempat kakak laki-laki mas Ari, cowok yang 
sedang mendekati aku, yang sedang kosong itu. Dia ganteng dan 
badannya keker, aku suka dia mendekatiku walaupun beda 
umurnya jauh denganku. Setelah menutup pagar depan, segera dia 
mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Dia segera memeluk 
tubuhku dan dengan sedikit bernafsu segera disosornya pipiku 
dengan bibirnya. Aku sangat terkejut melihat ulahnya, "Eeeh Mas, 
kok gitu sih " kataku memandangnya sambil melotot. Namun sambil 
tersenyum dia segera meraih tan
ganku dan ditariknya masuk ke 
dalam rumah. Setelah menutup pintu terasa sekali di dalam 
suasana agak remang-remang karena gorden masih tertutup. 
Sambil tetap memegang tanganku erat-erat, dia menatap wajahku, 
wajahku masih cemberut dan kelihatan marah. Sambil tetap 
tersenyum dia berkata "Nes, itu tadi berarti aku sayaang sama 
kamu, apa nggak boleh aku ngasih sun sayang?" rayunya. "Mas 
gitu sih",aku tetap merajuk kepadanya, aku menarik lepas tanganku 
dari genggamannya dan berjalan menuju ke sofa ruang tamu. Saat 
itu aku mengenakan celana ketat dari kain yang cukup tipis 
berwarna putih sehingga bentuk bokongku yang bulat padat 
begitu kentara, dan bahkan saking ketatnya CDku sampai kelihatan 
sekali berbentuk segitiga. Atasannya aku mengenakan baju kaos 
putih ketat dan polos sehingga bentuk toketku yang membulat 
terlihat jelas, kaosku yang cukup tipis membuat braku yang 
berwarna putih terpampang jelas sekali. Aku menghempaskan 
pantatku di sofa, dia menyusulku segera dan duduk rapat di 
sampingku, "Ines sayang" rayunya. "Aku boleh kan cium bibir 
kamu, say" Aku semakin merajuk. "Ines sayang, terus terang, hari 
ini aku kepingin bersama kamu, aku ingin memberikan rasa kasih 
sayang ke kamu, asal kamu mau memberikan apa yang aku 
inginkan, mau kan sayang?" rayunya lebih lanjut. Aku membelalak 
kaget ke arahnya, "Maasss" Hanya kata itu yang kuucapkan, 
selanjutnya aku hanya memandangnya lama tanpa sepatah 
katapun. Dia mengambil inisiatif dengan menggenggam erat dan 
mesra kedua belah tanganku. "Ines sayang, percayalah apapun 
yang kukatakan, itu bentuk rasa cinta dan kasih sayang aku sama 
kamu say, percayalah. Aku menginginkan bukti cintamu sekarang", 
Selesai berkata begitu dia mendekatkan mukanya ke wajahku, 
dengan cepat dia mengecup bibirku dengan lembut. Hidung kami 
bersentuhan lembut, aku kaget sehingga sama sekali tak 
memberontak. Dia mengulum bibir bawahku, disedot sedikit. 
Lima detik kemudian, dia melepaskan kecupan bibirnya dari 
bibirku. Aku saat dikecup tadi memejamkan mata, "Bagaimana 
sayang, kau bersediakah?", rayunya lebih lanjut. Dia berusaha 
mengecup bibirku lagi, namun dengan cepat aku melepaskan 
tangan kananku dari remasannya, dadanya kutahan dengan lembut. 
"Mass" bisikku lirih. "Ines sayang, percayalah sama aku", rayunya 
lagi. "Tapi mass, Ines takut Mas", jawabku. "Takut apa sayang, 
katakanlah", bisiknya kembali sambil meraih tanganku. "Anu, Ines 
takut Mas nanti meninggalkan Ines", bisikku. Dia menggenggam 
kuat kedua tanganku lalu secepat kilat dia mengecup bibirku. 
"Ines sayangku, aku terus terang tidak bisa menjanjikan apa-apa 
sama kamu tapi percayalah aku akan membuktikannya kepadamu, 
aku akan selalu sayang sama kamu", bujuknya untuk lebih 
meyakinkanku. "Tapi Mas" bisikku masih ragu. "Ines, percayalah, 
apa aku perlu bersumpah sayang, kita memang masih baru 
beberapa hari kenal sayang tapi percayalah, yakinlah sayang 
kalau Tuhan menghendaki kita pasti selalu bersama sayang", 
rayunya lagi. "Lalu kalau Ines sampai hhaamil gimana mass?" 
ujarku sembari menatapnya."Aah, jangan khawatir sayang, aku 
akan bertanggung jawab semuanya kalau kamu sampai hamil, yah 
aku pasti mengawini kamu secepatnya, bagaimana sayang?" 
bisiknya. 

Tangannya bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas 
jemari tangan kini mulai meraba ke atas menelusuri dari 
pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu 
diremasnya dengan lembut. Dia memandangi toketku dari balik 
baju kaosku yang ketat, "Mas harus janji dulu sebelum..." aku tak 
melanjutkan ucapanku. "Sebelum apa sayang, katakanlah", bisiknya 
tak sabar. Kini jemari tangan kanannya mulai semakin nekat 
menggerayangi pinggulku, ketika jemarinya merayap ke belakang 
diusapnya belahan pantatku lalu diremasnya dengan gemas. 
"aahh... Mas", aku merintih pelan. "Mas aah mmas.. Ines rela 
menyerahkan semuanya asal Mas mau bertanggung jawab 
nantinya", aku berbisik semakin lemah, saat itu jemari tangan 
kanannya bergerak semakin menggila, menelusup ke pangkal 
pahaku, dan mulai mengelus gundukan bukit memekku. Diusapnya 
perlahan dari balik celanaku yang amat ketat, dua detik kemudian 
dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku dan bukit 
memekku itu telah berada dalam genggaman tangannya. Aku 
menggelinjang kecil, saat jemari tangannya mulai meremas 
perlahan. Dia mendekatkan mulutnya kembali ke bibirku hendak 
mencium, namun aku menahan dadanya dengan tangan kananku, 
"eeehh Mas.. berjanjilah dulu Mas", bisikku di antara desahan 
nafasnya yang mulai sedikit memburu. "Oooh Ines sayang, aku 
berjanji untuk bertanggung jawab, aahh aku menginginkan 
keperawananmu sayang", ucapnya. Sementara jemari tangannya 
yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahaku itu 
meremas gundukan memekku lagi. "Ba.. baiklah Mas, Ines percaya 
sama Mas", bisikku. "Jadi?" tanyanya. "hh. lakukanlah mass, Ines 
milik Mas seutuhnya.. hh.." jawabku. "Benarkah? ooh.. Ines 
sayanggg." Secepat kilat bibirku kembali dikecup dan dikulumnya, 
digigit lembut, disedot. Hidung kami bersentuhan lembut. Dengus 
nafasku terdengar memburu saat dia mengecup dan mengulum 
bibirku cukup lama. DIa mempermainkan lidahnya di dalam 
mulutku, aku mulai berani membalas cumbuannya dengan 
menggigit lembut dan mengulum lidahnya dengan bibirku. Lidah 
kami bersentuhan, lalu dia mengecup dan mengulum bibir atas dan 
bawahku secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan 
kecil saat bibir kami saling mengecup. "aah Ines sayang, kamu 
pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?" tanyanya curiga. 
"Mm Ines belum pernah punya pacar Mas, ini ciuman Ines yang 
pertama kok Mas", sahutku. "Kok ciumanmu pintar sekali, jangan-
jangan Ines sering nonton film porno yaa?" godanya. Aku 
tersenyum malu, dan wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku 
menundukkan mukaku, malu. "I...iya Mas, beberapa kali", sahutku 
terus terang sambil tetap menundukkan muka. "Ines sayang, kamu 
nggak kecewa khan karena aku benar-benar sangat menginginkan 
keperawananmu sayang?" tanyanya. "Ines serahkan apa yang bisa 
Ines persembahkan buat Mas, Ines ikhlas, lakukanlah Mas kalau 
Mas benar-benar menginginkannya", sahutku lirih. Jemari tangan 
kanannya yang masih berada di selangkanganku mulai bergerak 
menekan ke gundukan memekku yang masih perawan, lalu diusap
-usap ke atas dan ke bawah dengan gemas. Aku memekik kecil 
dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara 
wajahku nampak sedikit berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam 
pelukannya dengan tangan kiri dan dia mencium rambutku. 
"Oooh masss", bisikku lirih. "Enaak sayang diusap-usap begini", 
tanyanya. "hh... iiyyaa mass", bisikku polos. Jemarinya kini bukan 
cuma mengusap tapi mulai meremas bukit memekku dengan 
sangat gemas. "sakit Mas aawww" aku memekik kecil dan 
pinggulku menggelinjang keras. Kedua pahaku yang tadi menjepit 
pergelangan tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat 
wajah dan daguku kearahnya, sambil merengkuh tubuhku agar 
lebih merapat ke badannya lalu kembali dia mengecup dan 
mencumbu bibirku dengan bernafsu. 

Puas mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya 
bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas 
menelusuri pinggang sampai ujung jemarinya berada di bagian 
bawah toketku yang sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu 
mulai mendaki perlahan, akhirnya jemari tangannya seketika 
meremas kuat toketku dengan gemasnya. Seketika itu pula aku 
melepaskan bibirku dari kuluman bibirnya, "aawww... Mas sakitt, 
jangan keras-keras dong meremasnya", protesku. Kini secara 
bergantian jemari tangannya meremas kedua toketku dengan lebih 
lembut. Aku menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah 
dan meremas-remas kedua toketku. "Auuggghh.." tiba2 dia 
menjerit lumayan keras dan meloncat berdiri. Aku yang tadinya 
sedang menikmati remasannya pada toketku jadi ikutan kaget. 
"Eeehh kenapa Mas?" "Aahh anu sayang...kontolku sakit nih", 
sahutnya sambil buru-buru membuka celana panjangnya di 
hadapanku. 

Aku tak menyangka dia berbuat demikian hanya memandangnya 
dengan terbelalak kaget. Dia membuka sekalian CDnya dan 
"Tooiiing", kontolnya yang sudah tegang itu langsung mencuat dan 
mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun . 
"aawww... Mas jorok", aku menjerit kecil sambil memalingkan 
mukaku ke samping dan menutup mukaku dengan tangan. "He... 
he..." dia terkekeh geli, batang kontolnya sudah kelihatan tegang 
berat, urat-urat di permukaan kontolnya sampai menonjol keluar 
semua. Batang kontolnya bentuknya montok, berurat, dan besar. 
Sementara aku masih menutup muka tanpa bersuara, dia 
mengocok kontolnya dengan tangan kanannya, "Uuuaahh... 
nikmatnya". "nes sebentar yaa... aku mau cuci kontolku dulu yaa... 
bau nih soalnya", katanya sambil ngibrit ke belakang, kontolnya 
yang sedang "ON" tegang itu jadi terpontang-panting sambil 
mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika dia 
berlari. Aku masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya 
keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat kontolnya 
yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun. 
"aawww..." teriakku kembali sembari menutup mukaku dengan 
kedua jemari tanganku. "Iiihh...Ines... takut apa sih, kok mukanya 
ditutup begitu", tanyanya geli. "Itu Mas, kon tol Mas", sahutku lirih. 
"Lhoo... katanya sudah sering nonton BF kok masih takut, kamu 
kan pasti sudah lihat di film itu kalau kon tol cowok itu bentuknya 
gini", sahutnya geli. "Iya... m..Mas, tapi kon tol Mas besar sekalii", 
sahutku masih sambil menutup muka. "Yaach... ini sih kecil 
dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, kon tol 
mereka jauh lebih gueedhee... kalau kontolku kan ukuran orang 
Indonesia sayang, ayo sini dong, kontolku kamu pegang sayang, 
ini kan milik kamu juga", sahutnya nakal. "Iiih... malu aah Mas, 
jorok." "Alaa.. malu-malu sih sayang, aku yang telanjang saja nggak 
malu sama kamu, masa kamu yang masih pakaian lengkap malu, 
ayo dong sayang kon tol Mas dipegang biar kamu bisa merasakan 
milik kamu sendiri", sahutnya sembari meraih kedua tanganku yang 
masih menutupi mukaku. 

pada mulanya aku menolak sambil memalingkan wajahku ke 
samping, namun setelah dirayu-rayu akhirnya aku mau juga. 
kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, namun 
kedua mataku masih kupejamkan rapat. Jemari kedua tanganku 
mulai menyentuh kepala kontolnya yang sedang ngaceng. Mulanya 
jemari tanganku hendak kutarik lagi saat menyentuh kontolnya yang 
ngaceng namun karena dia memegang kedua tanganku dengan 
kuat, dan memaksanya untuk memegang kontolnya itu, akhirnya 
aku hanya menurut saja. Pertama kali aku hanya mau memegang 
dengan kedua jemariku. "Aah... terus sayang pegang erat dengan 
kedua tanganmu", rayunya penuh nafsu. "Iiih... keras sekali Mas", 
bisikku sambil tetap memejamkan mata. "Iya sayang, itu tandanya 
aku sedang ngaceng sayang, ayo dong digenggam dengan kedua 
tanganmu, aahh..." dia mengerang nikmat saat tiba-tiba saja aku 
bukannya menggenggam tapi malah meremas kuat. Aku terpekik 
kaget, "Iiih sakit mass..." tanyaku. Aku menatapnya gugup. 
"Ooouhh jangan dilepas sayang, remas seperti tadi lekas sayang 
oohh..." erangnya lirih. Aku yang semula agak gugup, menjadi 
mengerti lalu jemari kedua tanganku yang tadi sedikit merenggang 
kini bergerak dan meremas kontolnya seperti tadi. Dia melenguh 
nikmat. Aku kini sudah berani menatap kontolnya yang kini sedang 
kuremas, jemari kedua tanganku itu secara bergantian meremas 
batang dan kepala kontolnya. Jemari kiri berada di atas kepala 
kontolnya sedang jemari yang kanan meremas kontolnya. .dia 
hanya bisa melenguh panjang pendek. ".sshh...nes...terusss 
sayang, yaahh... ohh... ssshh", lenguhnya keenakan. Aku 
memandangnya sambil tersenyum dan mulai mengusap-usap maju 
mundur, setelah itu kugenggam dan kuremas seperti semula 
tetapi kemudian aku mulai memompa dan mengocok kontolnya itu 
maju mundur. "Aakkkhh... ssshh" dia menggelinjang menahan 
nikmat. Aku semakin bersemangat melihatnya merasakan 
kenikmatan, kedua tanganku bergerak makin cepat maju mundur 
mengocok kontolnya. Dia semakin tak terkendali, "nes...ahhgghh... 
sshh... awas pejuku mau keluarr" teriaknya keras. aku meloncat 
berdiri begitu dia mengatakan kalimat itu, aku melepaskan remasan 
tanganku dan berdiri ke sebelahnya, sementara pandangan mataku 
tetap ke arah kontolnya yang baru kukocok. "Kamu kok lari sih..." 
bisiknya lirih disisiku. "Tadi pejunya mau keluar mass... kok nggak 
jadi?" tanyaku polos. Rupanya dia gak mau ngecret karena aku 
kocok makanya dia bilang pejunya mau keluar. Dia meraih tubuhku 
yang berada di sampingnya dan dipeluknya dengan gemas, aku 
menggelinjang saat dia merapatkan badannya ke tubuhku sehingga 
toketku yang bundar montok menekan dadanya yang bidang. Aku 
merangkulkan kedua lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun 
mengecup bibirku dengan mesra, kemudian dilumatnya bibirku 
sampai aku megap-megap kehabisan napas. Terasa kontolnya 
yang masih full ngaceng itu menekan kuat bagian pusarku, karena 
memang tubuhnya lebih tinggi dariku. Sementara bibir kami 
bertautan mesra, jemari tangannya mulai menggerayangi bagian 
bawah tubuhku, dua detik kemudian jemari kedua tangannya telah 
berada di atas bulatan kedua belah bokongku. Diremasnya 
dengan gemas, jemarinya bergerak memutar di bokongku. Aku 
merintih dan mengerang kecil dalam cumbuannya. 

Lalu dia merapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan sehingga 
mau tak mau kontolnya yang tetap tegang itu jadi terdesak perutku 
lalu menghadap ke atas. Aku tak memberontak dan diam saja. 
Sementara itu dia mulai menggesek-gesekkan kontolnya yang 
tegang itu di perutku. Namun baru juga 10 detik aku melepaskan 
ciuman dan pelukannya dan tertawa-tawa kecil, "Kamu apaan sih 
kok ketawa", tanyanya heran. "Abisnya... Mas sih, kan Ines geli 
digesekin kaya gitu", sahutku sambil terus tertawa kecil. Dia segera 
merengkuh tubuhku kembali ke dalam pelukannya, dan aku tak 
menolak saat dia menyuruhku untuk meremas kontolnya seperti 
tadi. Segera jemari tangan kananku mengusap dan mengelus-elus 
kontolnya dan sesekali kuremas. Dia menggelinjang nikmat. 
"aagghh... nes... terus sayang..." bisiknya mesra. Wajah kami 
saling berdekatan dan aku memandang wajahnya yang sedang 
meringis menahan rasa nikmat. "Enaak ya mass..." bisikku mesra. 
Jemari tanganku semakin gemas saja mempermainkan kontolnya
bahkan mulai kukocok seperti tadi. Dia melepaskan kecupan dan 
pelukanku. "Gerah nih sayang, aku buka baju dulu yaah sayang", 
katanya sambil terus mencopot kancing kemejanya satu persatu 
lalu dilemparkan sekenanya ke samping. Kini dia benar-benar 
polos dan telanjang bulat di hadapanku. Aku masih tetap 
mengocok kontolnya maju mundur. "Sayang... kau suka yaa sama 
kontolku", katanya. Sambil tetap mengocok kontolnnya aku 
menjawab dengan polos. "suka sih Mas... habis kon tol Mas lucu 
juga, keras banget Mas kayak kayu", ujarku tanpa malu-malu lagi. 
"Lucu apanya sih?" tanyanya. Aku memandangnya sambil 
tersenyum, "pokoknya lucu saja", bisikku lirih tanpa penjelasan. 
"Gitu yaa... kalau memek kamu seperti apa yaa... aku pengen liat 
dong", katanya. Aku mendelik sambil melepaskan tanganku dari 
kontolnya. "Mas jorok ahh..." sahutku malu-malu. "Ayo, aku sudah 
kepengen ngerasain nih... aku buka ya celana kamu", katanya lagi. 
Dan dengan cepat dia berjongkok di depanku, kedua tangannya 
meraih pinggulku dan didekatkan ke arahnya. Pada mulanya aku 
agak memberontak dan menolak tangannya namun begitu aku 
memandang wajahnya yang tersenyum padaku akhirnya aku hanya 
pasrah dan mandah saat jemari kedua tangannya mulai gerilya 
mencari ritsluiting celana ketatku yang berwarna putih itu. Mukanya 
persis di depan selangkanganku sehingga dia dapat melihat 
gundukan bukit memekku dari balik celana ketatku. Dia semakin tak 
sabar, dan begitu menemukan tali ritsluitingku segera ditariknya ke 
bawah sampai terbuka, kebetulan aku tak memakai sabuk sehingga 
dengan mudah dia meloloskan dan memplorotkan celanaku 
sampai ke bawah. Sementara pandangannya tak pernah lepas dari 
selangkanganku, dan kini terpampanglah di depannya CDku yang 
berwarna putih bersih itu tampak sedikit menonjol di tengahnya. 
Terlihat dari CDku yang cukup tipis itu ada warna kehitaman, 
jembutku. Waahh... dia memandang ke atas dan aku menatapnya 
sambil tetap tersenyum. "Aku buka ya.. CDnya", tanyanya. Aku 
hanya menganggukan kepala perlahan. Dengan gemetar jemari 
kedua tangannya kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua 
betisku terus ke atas sampai kedua belah pahak, dia mengusap 
perlahan dan mulai meremas. "Oooh... Masss" aku merintih kecil. 
kemudian jemari kedua tangannya merayap ke belakang ke 
belahan bokongku yang bulat. Dia meremas gemas disitu. 

Ketika jemari tangannya menyentuh tali karet CDku yang bagian 
atas, sreeet... secepat kilat ditariknya ke bawah CDku itu dengan 
gemas dan kini terpampanglah sudah daerah 'forbidden' ku. 
Menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil 
mulai dari bawah pusarku sampai ke bawah di antara kedua belah 
pangkal pahaku, sementara di bagian tengah gundukan bukit 
memekku terbelah membentuk sebuah bibir tebal yang mengarah 
ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang memekku. 
Dan di sekitar situ ada jembut yang cukup lebat. "Oohh.. nes, 
indahnya..." Hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan saat itu. Dia 
mendongak ketika aku sedang membuka baju kaosku, setelah 
melemparkan kaos sekenanya kedua tanganku lalu menekuk ke 
belakang punggungnya hendak membuka braku dan tesss... bra 
itupun terlepas jatuh di mukanya. Selanjutnya aku melepas juga 
celana dan CDku yang masih tersangkut di mata kakiku, lalu 
sambil tetap berdiri di depannya, aku tersenyum manis kepadanya, 
walaupun wajahku sedikit memerah karena malu. Toketku 
berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua 
kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya pentil kecilnya saja 
yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. "kamu cantik 
sekali sayang", bisiknya lirih. Aku mengulurkan kedua tanganku 
kepadanya mengajaknya berdiri lagi. "Mass...Ines sudah siap, 
Ines sayang sama Mas, Ines akan serahkan semuanya seperti 
yang Mas inginkan", bisikku mesra. Dia merangkul tubuhku yang 
telanjang. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit 
nya, kedua toketku yang bulat menekan lembut dadanya yang 
bidang. Jemari tangannya tergetar saat mengusap punggungku 
yang telanjang, "Aahh.. nes kita ke kamar yuk, aku sudah kepingin 
sayang", bisiknya tanpa malu-malu lagi. Aku hanya tersenyum 
dalam pelukannya. "Terserah Mas saja, maunya dimana", sahutku 
mesra. 

Dengan penuh nafsu dia segera meraih tubuhku dan 
digendongnya ke dalam kamar. Direbahkannya tubuhku yang 
telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, 
tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus 
berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena 
semua gorden tertutup agar tak kentara dari luar, walaupun kamar 
ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun 
menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman. 
Dia segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat 
masuk, dan benar saja begitu disibakkan sinar matahari dari arah 
barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Dia memandangi 
tubuhku yang telanjang bulat di ranjang. Segera dia menaiki 
ranjang, aku memandangnya sambil tersenyum. Dia merayap ke 
atas tubuhku yang bugil dan menindihnya, sepertinya dia sudah tak 
sabar ingin segera memasuki memekku. "Buka pahamu sayang, 
aku ingin memasukimu sekarang", bisiknya bernafsu. "Mass..." aku 
hanya melenguh pasrah saat dia setengah menindih tubuhku dan 
kontolnya yang tegang itu mulai menusuk celah memekku, 
tangannya tergetar saat membimbing kontolnya mengelus 
memekku lalu menelusup di antara kedua bibir memekku. "Sayang, 
aku masukkan yaah... kalau sakit bilang sayang..kamu kan masih 
perawan." "Pelan-pelan Mas", bisikku pasrah. Lalu dengan jemari 
tangan kanannya diarahkannya kepala kontolnya ke memekku. Aku 
memeluk pinggangnya mesra, sementara dia mencari liang 
memekku di antara belahan bukit memekku. Dia mencoba untuk 
menelusup celah bibir memekku bagian atas namun setelah 
ditekan ternyata jalan buntu. "Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke 
bawah lagi Mas... mm.. yah tekan di situ Mas... aawww pelan-pelan 
Mas sakiiit", aku memekik kecil dan menggeliat kesakitan. Akhirnya 
dia berhasil menemukan celah memekku itu setelah aku 
menuntunnya, diapun mulai menekan ke bawah, kepala 
kontolnyadipaksanya untuk menelusup ke dalam liang memekku 
yang sempit. Dia mengecup bibir ku sekilas lalu berkonsentrasi 
kembali untuk segera dapat membenamkan kontolnya seluruhnya 
ke dalam liang memekku. Aku mulai merintih dan memekik-mekik 
kecil ketika kepala kontolnya yang besar mulai berhasil menerobos 
liang memekku yang sangat-sangat sempit sekali. "Tahan 
sayang...aku masukkan lagi, sempit sekali sayang aahh", erangnya 
mulai merasakan kenikmatan dan kurasakan kepala kontolnya 
berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang memekku. 
"aawwww.... masss sakiit..." teriakku memelas, tubuhku menggeliat 
kesakitan. Dia berusaha menentramkan aku sambil mengecup 
mesra bibirku dan dilumat dengan perlahan. Lalu, "tahan sayang, 
baru kepalanya yang masuk sayang, aku tekan lagi yaah", bisiknya. 
Tiba2 dia mencabut kembali kontolnya yang baru masuk kepalanya 
saja itu dengan perlahan. "Ah... sayang, aku masukin nanti saja 
deh, liang memekmu masih sangat sempit dan kering sayang." 
"memekku sakit Mas", erangku lirih. "Yahh... aku tahu sayang kamu 
kan masih perawan, kita bercumbu dulu sayang, aku kepingin 
melihat Ines nyampe", bisiknya bernafsu. Segera dia merebahkan 
badannya di atas tubuhku dan dipeluknya dengan kasih sayang, 
"Ines... hh.. bagaimana perasaanmu sayang", bisiknya mesra. Aku 
memandangnya dan tertawa renyah. "mm... Ines bahagia sekali 
bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil 
telanjang kaya gini", ujarku polos. "Iyaa sayang, anggaplah aku 
suamimu saat ini sayang", bisiknya nakal. "Iih.. Mas, Mas cumbui 
isterimu dong, beri istrimu kenik...mmbhh", belum sempat aku 
selesai ngomong, dia sudah melumat bibirku. Aku membalas 
ciumannya dan melumat bibirnya dengan mesra.Dia menjulurkan 
lidahnya ke dalam mulutku dan aku langsung mengulumnya 
hangat, begitu sebaliknya. Jemari tangan kirinya merayap ke bawah 
menelusuri sambil mengusap tubuhku mulai pundak terus ke 
bawah sampai ke pinggul dan diremasnya dengan gemas. Ketika 
tangannya bergerak kebelakang ke bulatan bokongku, dia mulai 
menggoyangkan seluruh badannya menggesek tubuhku yang bugil 
terutama pada bagian selangkangan dimana kontolnya
yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit 
memekku. Dia menggerakkan pinggulnya secara memutar sambil 
menggesek-gesekkan batang kontolnya di permukaan bibir 
memekku sambil sesekali ditekan-tekan. Aku ikut-ikutan 
menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala kontolnya yang 
tegang salah sasaran memasuki belahan bibir memekku seolah 
akan menembus liang memekku lagi. Aku hanya merintih kesakitan 
dan memekik kecil, "Aawwww... Mas saakiit", erangku. "Aahh..nes... 
memekmu empuk sekali sayang, ssshh", dia melenguh keenakan. 
Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, dia 
menggeser tubuhnya kebawah sampai mukanya tepat berada di 
atas kedua bulatan toketku, kini ganti perutnya yang menekan 
memekku. Jemari kedua tangannya secara bersamaan mulai 
menggerayangi gunung "Semeru" milikku, dia mulai 
menggesekkan ujung-ujung jemarinya mulai dari bawah toketku di 
atas perut terus menuju gumpalan kedua toketku yang kenyal dan 
montok. Aku merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat. 
"Mass, geli", erangku lirih. Beberapa saat dia empermainkan kedua 
pentilku yang kemerahan dengan ujung jemarinya. Aku 
menggelinjang lagi, dipuntirnya sedikit pentilku dengan lembut. " 
Mas..." aku semakin mendesah tak karuan. Secara bersamaan 
akhirnya dia meremas-remas gemas kedua toketku dengan 
sepenuh nafsu. "Aawww... Mas", aku mengerang dan kedua 
tanganku memegangi kain sprei dengan kuat. Dia semakin 
menggila tak puas meremas lalu mulutnya mulai menjilati kedua 
toketku secara bergantian. Lidahnya menjilati seluruh permukaan 
toketku itu sampai basah, mulai dari toket yang kiri lalu berpindah 
ke toket yang kanan, digigit-gigitnya pentilku secara bergantian 
sambil diremas-remas dengan gemas sampai aku berteriak-teriak 
kesakitan. Lima menit kemudian lidahnya bukan saja menjilati kini 
mulutnya mulai beraksi menghisap kedua pentilku sekuat-kuatnya. 
Dia tak peduli aku menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali 
kedua jemari tanganku memegang dan meremasi rambutnya, 
sementara kedua tangannya tetap mencengkeram dan meremasi 
kedua toketku bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya. Bibir 
dan lidahnya dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan 
menghisap kedua toketku. Di dalam mulutnya pentilku dipilin 
dengan lidahnya sambil terus dihisap. Aku hanya bisa mendesis, 
mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika giginya 
menggigiti pentilku dengan gemas, hingga tak heran kalau di 
beberapa tempat di kedua bulatan toketku itu nampak berwarna 
kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas 
gigitannya. 

Cukup lama dia mengemut toketku, setelah itu bibir dan lidahnya 
kini merayap menurun ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas 
pusarku, aku mulai mengerang-erang kecil keenakan, dia 
mengecup dan membasahi seluruh perutku. Ketika dia bergeser 
ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirnya telah berada di atas 
gundukan bukit memekku. "Buka pahamu Nes.." teriaknya tak 
sabar, posisi pahaku yang kurang membuka itu membuatnya 
kurang leluasa untuk mencumbu memekku itu. "Oooh... masss", 
aku hanya merintih lirih. Dia membetulkan posisinya di atas 
selangkangan ku. Aku membuka ke dua belah pahaku lebar-lebar, 
aku sudah sangat terangsang sekali. Kedua tanganku masih tetap 
memegangi kain sprei, aku kelihatan tegang sekali. "Sayang... 
jangan tegang begitu dong sayang", katanya mesra. "Lampiaskan 
saja perasaanmu, jangan takut kalau Ines merasa nikmat, teriak 
saja sayang biar puass...." katanya selanjutnya. Sambil 
memejamkan mata aku berkata lirih. "Iya mass eenaak sih mass", 
kataku polos. Dia memandangi memekku yang sudah ditumbuhi 
jembut namun kulit dimemekku dan sekitarnya itu tidak tampak 
keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang. Bibir 
memekku kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit 
kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua 
bibir memekku itu tertutup rapat. "MAs...ngapain sih kok ngelamun, 
bau yaa Mas?" tanyaku sambil tersenyum. Wajahku sedikit kusut 
dan berkeringat."abisnya memekmu lucu sih, bau lagi", balasnya 
nakal. "Iiihh...jahat", Belum habis berkata begitu aku memegang 
kepalanya dan mengucek-ucek rambutnya. Dia tertawa geli. 
Selanjutnya aku menekan kepalanya ke bawah, sontak mukanya 
terutama hidung dan bibirnya langsung nyosor menekan memekku, 
hidungnya menyelip di antara kedua bibir memekku. Bibirnya 
mengecup bagian bawah bibir memekku dengan bernafsu, 
sementara jemari kedua tangannya merayap ke balik pahaku dan 
meremas bokongku yang bundar dengan gemas. Dia mulai 
mencumbui bibir memekku yang tebal itu secara bergantian seperti 
kalau dia mencium bibirku. Puas mengecup dan mengulum bibir 
bagian atas, dia berpindah untuk mengecup dan mengulum bibir 
memekku bagian bawah. Karena ulahnya aku sampai menjerit-jerit 
karena nikmatnya, tubuhku menggeliat hebat dan terkadang 
meregang kencang, beberapa kali kedua pahaku sampai menjepit 
kepalanya yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir 
memekku. Dia memegangi kedua belah bokongku yang sudah 
berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak, sepertinya dia tak 
rela melepaskan pagutan bibirnya pada bibir memekku. aku 
mengerang-erang dan tak jarang memekik cukup kuat saking 
nikmatnya. Kedua tanganku meremasi rambutnya sampai kacau, 
sambil menggoyang-goyangkan pinggulku. Kadang pantat 
kunaikkan sambil mengejan nikmat atau kadang kugoyangkan 
memutar seirama dengan jilatan lidahnya pada seluruh permukaan 
memekku. aku berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang 
menangis saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang 
diciptakannya pada memekku. Tubuhku menggeliat hebat, 
kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat, sambil 
mengerang tak karuan. Dia semakin bersemangat melihat 
tingkahku, mulutnya semakin buas, dengan nafas setengah 
memburu disibakkannya bibir memekku dengan jemari tangan 
kanannya, terlihat daging berwarna merah muda yang basah oleh 
air liurnya bercampur dengan cairan lendirku, agak sebelah bawah 
terlihat celah liang memekku yang amat sangat kecil dan berwarna 
kemerahan pula. Dia mencoba untuk membuka bibir memekku 
agak lebar, namun aku memekik kecil karena sakit. "aawww mass.. 
sakiit", pekikku kesakitan. "maaf sayang, sakit yaa..." bisiknya 
khawatir. 

Dia mengusap dengan lembut bibir memekku agar sakitnya hilang, 
sebentar kemudian lalu disibakkan kembali pelan-pelan bibir 
memekku, celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang 
memekku yang sempit itu ada tonjolan daging kecil sebesar 
kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah itil, bagian 
paling sensitif dari memek wanita. Lalu secepat kilat dengan rakus 
lidahnya dijulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil 
daging itilku. Aku memekik sangat keras sambil menyentak-
nyentakkan kedua kakiku ke bawah. Aku mengejang hebat, 
pinggulku bergerak liar dan kaku, sehingga jilatannya pada itilku jadi 
luput. Dengan gemas dia memegang kuat-kuat kedua belah 
pahaku lalu kembali menempelkan bibir dan hidungnya di atas 
celah kedua bibir memekku, dia menjulurkan lidahnya keluar 
sepanjang mungkin lalu ditelusupkannya lidahnya menembus 
jepitan bibir memekku dan kembali menyentil nikmat itilku dan, aku 
memekik tertahan dan tubuhku kembali mengejan sambil 
menghentak-hentakkan kedua kakiku, pantat ku angkat ke atas 
sehingga lidahnya memasuki celah bibir memekku lebih dalam dan 
menyentil-nyentil itilku. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit 
aku terisak menangis dan ada semburan lemah dari dalam liang 
memekku berupa cairan hangat agak kental banyak sekali. Dia 
masih menyentil itilku beberapa saat sampai tubuhku terkulai lemah 
dan akhirnya pantatku pun jatuh kembali ke kasur. Aku melenguh 
panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru kurasakan, 
sementara dia masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar ketika 
aku nyampe. Seluruh selangkanganku tampak basah penuh air liur 
bercampur lendir yang kental. Dia menjilati seluruh permukaan 
memekku sampai agak kering, "Sayaang... puas kan..." bisiknya 
lembut namun aku sama sekali tak menjawab, mataku terpejam 
rapat namun mulutku tersenyum bahagia. "Giliranku sayang, aku 
mau masuk nih... tahan sakitnya sayang", bisiknya lagi tanpa 
menunggu jawabannya. 

Dia segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhku 
yang telanjang berkeringat. Toketku penuh lukisan hasil karyanya. 
Dengan agak kasar dia menarik kakiku ke atas dan 
ditumpangkannya kedua pahaku pada pangkal pahanya sehingga 
kini selangkanganku menjadi terbuka lebar. Dia menarik bokongku 
ke arahnya sehingga kontolnya langsung menempel di atas 
memekku yang masih basah. Dia mengusap-usapkan kepala 
kontolnya pada kedua belah bibir memekku dan lalu beberapa saat 
kemudian dengan nakal kontolnya ditepuk-tepukkan dengan gemas 
ke memekku. Aku menggeliat manja dan tertawa kecil, "Mas... iiih.. 
gelii..aah", jeritku manja. "Sayaang, kontolku mau masuk nih... tahan 
yaa sakitnya", bisiknya nakal penuh nafsu. "Iiihh... jangan kasar ya 
mass... pelan-pelan saja masukinnya, Ines takut sakiit", sahutku 
polos penuh kepasrahan. Sedikit disibakkannya bibir memekku 
dengan jemari kirinya, lalu diarahkannya kepala kontolnya yang 
besar ke liang memekku yang sempit. Dia mulai menekan dan aku 
pun meringis, dia tekan lagi... akhirnya perlahan-lahan mili demi mili 
liang memekku itu membesar dan mulai menerima kehadiran 
kepala kontolnya. Aku menggigit bibir. Dia melepaskan jemari 
tangannya dari bibir memekku dan plekk... bibir memekku langsung 
menjepit nikmat kepala kontolnya. "Tahan sayang..." bisiknya 
bernafsu. Aku hanya mengangguk pelan, mata lalu kupejamkan 
rapat-rapat dan kedua tanganku kembali memegangi kain sprei. 
Dia agak membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa 
lebih leluasa untuk menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya 
dan akhirnya kepala kontolnya mulai tenggelam di dalam liang 
memekku. Dia kembali menekan, dan aku mulai menjerit kesakitan. 
Dia tak peduli, mili demi mili kontolnya secara pasti terus melesak 
ke dalam liang memekku dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 
centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala kontolnya 
untuk terus masuk, dia terus menekan dan aku melengking keras 
sekali lalu menangis terisak-isak. selaput daraku robek. Dia terus 
menekan kontolnya, ngotot terus memaksa memasuki liang 
memekku yang luar biasa sempit itu. Dia memegang pinggulku, 
dan ditariknya kearahnya sehingga kontolnya masuk makin ke 
dalam. Aku terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara dia 
sendiri malah merem melek keenakan. Dan dia menghentak keras 
ke bawah, dengan cepat kontolnya mendesak masuk liang 
memekku. dia mengerang nikmat. Dihentakkan lagi pantatnya ke 
bawah dan akhirnya kontolnya secara sempurna telah tenggelam 
sampai kandas terjepit di antara bibir memekku. dia berteriak keras 
saking nikmatnya, matanya mendelik menahan jepitan ketat 
memekku yang luar biasa. Sementara aku hanya memekik kecil lalu 
memandangnya sayu. "Mass... Ines sudah nggak perawan lagi 
sekarang", bisikku lirih. "Ines sayang, Mas sekarang juga nggak 
perjaka lagi", balasnya mesra. Kami sama-sama tersenyum. 
Direbahkannya badannya di atas tubuhku yang telanjang, aku 
memeluknya penuh kasih sayang, toketku kembali menekan 
dadanya. Memekku menjepit meremas kuat kontolnya yang sudah 
amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra,dia 
mengusap mesra wajahku yang masih menahan sakit menerima 
tusukan kontolnya. "Mas... bagaimana rasanya", bisikku mulai 
mesra kembali, walaupun sesekali kadang aku menggigit bibir 
menahan sakit. "Enaak sayang..dan nikmaat...oouhh aku nggak 
bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang... selangit 
pokoknya", bisiknya. "MAs, bagaimana kalau Ines sampai hamil?" 
bisikku sambil tetap tersenyum."Oke...nanti setelah ini kita cari obat 
di apotik, obat anti hamil", bisiknya gemas. "Iihh...nakal..." sahutku 
sambil kembali mencubit pipinya. "Biariin..." "Maasss..." aku agak 
berteriak. "Apaan sih..." tanyanya kaget. Lalu sambil agak bersemu 
merah dipipi aku berkata lirih. "dienjot dong..." bisikku hampir tak 
terdengar. "Iiih Ines kebanyakan nonton film porno, kan memeknya 
masih sakiit", jawabnya. "Pokoknya, dienjot dong Mas..." sahutku 
manja. Dia mencium bibirku dengan bernafsu, dan akupun 
membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan 
lama sekali, lalu sambil tetap begitu dia mulai menggoyang 
pinggul naik turun. kontolnya mulai menggesek liang memekku 
dengan kasar, pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat 
mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Aku memeluk 
punggungnya dengan kuat, ujung jemari tanganku menekan 
punggungnya dengan keras. Kukuku terasa menembus kulitnya. 

Tapi dia tak peduli, dia sedang menikmati tubuhku. Aku merintih 
dan memekik kesakitan dalam cumbuannya. Beberapa kali aku 
sempat menggigit bibirnya, namun itupun dia tak peduli. Dia hanya 
merasakan betapa liang memekku yang hangat dan lembut itu 
menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging 
memekku seolah mencengkeram kuat kontolnya, sehingga terasa 
ikut keluar. Aku melepaskan ciumannya dan mencubit 
pinggangnya. "Awww... aduuh Mass... sakit ... . ngilu Mas" aku 
berteriak kesakitan. "Maaf sayang... aku mainnya kasar yaah? aku 
nggak tahan lagi sayang aahhgghghh", bisiknya. "pejuku mau 
keluar, desahnya sambil menyemprotkan peju yang banyak di liang 
memekku. Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan 
tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat 
karena kecapaian dalam permainan tadi. 

Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di 
dalam kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Dia 
minta aku jongkok. Dia mengajariku untuk menjilati serta 
mengulum kontolnya yang sudah tegak berdiri lagi. Kontolnya 
kukulum sambil kukocok pelan-pelan naik turun. "Enak banget 
yang, kamu cepet ya belajarnya. Terus diemut yang", erangnya. 
Kemudian giliran dia, aku disuruhnya berdiri sambil kaki satunya 
ditumpangkan di bibir bathtub agar siap mendapat serangan 
oralnya. Dia menyerang selangkanganku dengan lidah yang 
menari-nari kesana kemari pada itilku sehingga aku mengerang 
sambil memegang kepalanya untuk menenggelamkannya lebih 
dalam ke memekku. Dia tahu apa yang kumau, lalu dijulurkannya 
lidahnya lebih dalam ke memekku sambil mengorek-korek itilku 
dengan jari manisnya. Semakin hebat rangsangan yang aku 
rasakan sampai aku nyampe, dengan derasnya lendirku keluar 
tanpa bisa dibendung. Dia menjilati dan menelan semua lendirku 
itu tanpa merasa jijik. "Mas, nikmat banget deh, Ines sampe 
lemes", kataku. "Ya udah kamu istirahat aja, aku mau cari 
makanan dulu ya", katanya sambil berpakaian dan meninggalkan ku 
sendiri di rumah itu. Aku berbaring di ranjang, ngantuk sampe 
ketiduran lagi. DIa membangunkanku dan mengajakku makan 
nasi padang yang sudah dibelinya. "Nes, malem ini kita tidur disini 
aja ya, aku masih pengen ngerasain peretnya memekmu lagi. 
Kamu mau kan", katanya sambil membelai pipiku. "Ines nurut aja 
apa yang mas mau, Ines kan udah punyanya mas", jawabku 
pasrah. 

Sehabis makan langsung Aku dibawanya lagi keranjang, dan 
direbahkan. Kami langsung berpagutan lagi, aku sangat bernapsu 
meladeni ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya 
menjalar menuju ke toketku dan dikulumnya pentilku. Terus menuju 
keperut dan dia menjilati pusarku hingga aku menggelepar 
menerima rangsangan itu yang terasa nikmat. "Mas enak sekali.." 
nafasku terengah2. Lumatannya terus dilanjutkannya pada itilku. 
Itilku dijilatinya, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang hebat. 
Pantatku kuangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun 
merespons hal itu dengan memainkan lidahnya ke dalam memekku 
yang sudah dibukanya sedikit dengan jari. Ketika responsku sudah 
hampir mencapai puncak, dia menghentikannya. Dia ganti dengan 
posisi 69. Dia telentang dan minta aku telungkup diatas tubuhnya 
tapi kepalaku ke arah kontolnya. Dia minta aku untuk kembali 
menjilati kepala kontolnya lalu mengulum kontolnya keluar masuk 
mulutku dari atas. Setelah aku lancar melakukannya, dia menjilati 
memek dan itilku lagi dari bawah. Selang beberapa lama kami 
melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk menancapkan 
kontolnya di memekku lagi. 

Aku ditelentangkannya, pahaku dikangkangkannya, pantatku 
diganjal dengan bantal. "buat apa mas, kok diganjel bantal segala", 
tanyaku. "biar masuknya dalem banget yang, nanti kamu juga 
ngerasa enaknya", jawabnya sambil menelungkup diatasku. 
Kontolnya digesek2kan di memekku yang sudah banyak lendirnya 
lagi karena itilku dijilati barusan. "Ayo Mas cepat, Ines sudah tidak 
tahan lagi" pintaku dengan bernafsu. "Wah kamu sudah napsu ya 
Nes, aku suka kalo kita ngen tot setelah kamu napsu banget 
sehingga gak sakit ketika kontolku masuk ke me mek kamu", 
jawabnya. Dengan pelan tapi pasti dia masukan kontolnya ke 
memekku. "Pelan2 ya mas, biar gak sakit", lenguhku sambil 
merasakan kontolnya yang besar menerobos memekku yang 
masih sempit. Dia terus menekan2 kontolnya dengan pelan 
sehingga akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga 
dan dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep 
dalem sekali. "Mas enjot yang cepat, Mas, Ines udah mau nyampe 
ach.. Uch..Enak Mas, lebih enak katimbang dijilat mas tadi", 
lenguhku. "Aku juga mau keluar, yang", jawabnya.Dengan hitungan 
detik kami berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, 
terasa memekku berkedutan meremes2 kontolnya. Lemas dan 
capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. 

Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dia minta aku mengemut 
kontolnya lagi. "Aku belum puas yang, mau lagi, boleh kan?" 
yanyanya. "Boleh mas, Ines juga pengen ngerasain lagi nyampe 
seperti tadi", jawabku sambil mulai menjilati kepala kontolnya yang 
langsung ngaceng dengan kerasnya. Kemudian kepalaku mulai 
mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Dia 
mengerang kenikmatan, "Enak banget Nes emutanmu. Tadi 
memekmu juga ngempot kontolku ketika kamu nyampe. Nikmat 
banget deh malam ini, boleh diulang ya sayang kapan2". Aku diam 
tidak menjawab karena ada kontolnya dalam mulutku. "NEs, aku 
udah mau ngecret nih, aku masukkin lagi ya ke memek kamu", 
katanya sambil minta aku nungging. "MAu ngapain mas, kok Ines 
disuru nungging segala", jawabku tidak mengerti. "udah kamu 
nungging aja, mas mau ngentotin kamu dari belakang", jawabnya. 
Sambil nungging aku bertanya lagi, "Mau dimasukkin di pantat ya 
mas, Ines gak mau ah". "Ya gak lah yang, ngapain di pantat, di 
memek kamu udah nikmat banget kok", jawabnya. dengan pelan 
diumasukkannya kontolnya ke memekku, ditekan2nya sampe 
amblas semua, terasa kontolnya masuk dalem sekali, seperti tadi 
ketika pantatku diganjel bantal. kontolnya mulai dikeluarmasukkan 
dengan irama lembut. Tanpa sadar aku mengikuti iramanya dengan 
menggoyangkan pantatku. Tangan kirinya menjalar ke toketku dan 
diremas-remas kecil, sambil mulai memompa dengan semakin 
cepat. Aku mulai merasakan nikmatnya dientot, sakit sudah tidak 
terasa lagi. "Mas, Ines udah ngerasa enaknya dientot, terus yang 
cepet ngenjotnya mas, rasanya Ines udah mau nyampe lagi", 
erangku. Dia tidak menjawab, enjotan kontolnya makin lama makin 
cepet dan keras, nikmat banget deh rasanya. Akhirnya dengan satu 
enjotan yang keras dia melenguh, "Nes aku ngecret, aah", 
erangnya. "Mas, Ines nyampe juga mas, ssh", bersamaan dengan 
ngecretnya pejunya aku juga nyampe. Kembali aku terkapar 
kelelahan. Nikmatnya diprawanin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar