Minggu, 19 April 2015

Cerita Dewasa : "Aku Menjadi Obyek Masturbasi"

Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan. Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun, hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja namun bentuknya padat dan menggairahkan hingga dapat membuat setiap lelaki menelan ludah bila memandangnya, apa lagi ditunjang postur tubuhku yang sexy dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.

Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model longgar di bagian bawah, hingga tampak jelas CD model G String warna merah yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan seutas tali nylon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping. Bulu-bulu halus kemaluanku tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga kecil yang tipis ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Bentuk G String yang kupakai memang sangat sexy dan aku sangat suka memakainya, ditambah seutas tali nylon yang melingkar melewati selangkanganku tepat mengikuti belahan pantatku ke atas bagian belakang dan tersambung dengan tali nylon yang melingkar di pinggangku.

Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menutupi tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai. Sambil telanjang bulat aku berjalan menuju lemari mengambil sebuah celana pendek mini yang longgar di bagian bawahnya yang terbuat dari bahan sutera tipis tembus pandang dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja. Segera kukenakan sambil menyalakan komputer dan mengakses internet. Celana ini memang enak sekali dipakai di rumah saat tidur, dan aku biasa tidur dalam keadaan seperti ini, tanpa busana lainnya menutupi tubuhku, hanya ada celana pendek seperti yang kukenakan saat ini. Namun tak jarang juga aku tidur tanpa berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut.

Seperti biasa, email yang masuk ke mail box-ku sangat banyak. Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucantumkan persyaratanku bila ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku, sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya namun tidak memenuhi persyaratanku tetapi tetap ngotot berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan reply. Demikian pula bagi yang mengirimkan pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu. Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan juga menggunakan SMS, untuk apa aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.

Setelah selesai membuka dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyalakan karena rencananya nanti selesai mandi aku akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan banyak lagi email yang masuk.

Kulepas celana yang kupakai dan aku memasuki kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bathtub kamar mandiku. Sore ini aku ingin berendam sejenak sambil menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuhku. Kutorehkan bath foam secukupnya dalam air hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya air, tiba-tiba handphoneku berbunyi.

Kalau kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah seorang pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratanku, nomor handphonenya segera kumasukkan memory dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil hand phoneku yang tergolek di atas meja computer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).

"Yaa..! Halloo..!", sapaku setelah menekan tombol Yes.
"Hallo..! Hai Lia..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich?", sahut Amin dari seberang.
"Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah telanjang bulat nich, sudah siap-siap mau berendam", belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku..
"Eee.. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku", pinta Amin.
"Baiklah", jawabku menyetujui sambil meraih hands free kemudian aku masuk kembali ke kamar mandi.

Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.

"Lia! Aku sekarang juga berjalan ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich!", Amin mencoba menjelaskan keadaannya saat itu padaku.
"Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?", ujarku.
"Lia! Aku ingin melakukan onani sambil ngobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan? Please! Sekarang penisku sudah selesai kubasahi dan kuoles dengan shampoo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan", pinta Amin lagi dengan memelas.

Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku sempat membayangkan sejenak dan sedikit mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku memakai hands free, maka aku tetap masih bisa mengobrol dengan kedua tanganku tetap bebas bisa beraktifitas. Kuceritakan pada Amin kalau saat ini aku sedang meremas-remas kedua payudaraku yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri bergantian kiri kanan, aku merasakan ada aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah mengalami rangsangan hebat.

Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil mengangkat kedua buah kakiku dan meletakkannya ke samping bathtub hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku. Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba kudengar suara teriakan Amin dari seberang sana..

"Ooo.. Oocch! Liaa..! Aku orgasme nich!", suaranya makin lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila! Dia sepertinya sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri, mendengar suara itu aku menjadi semakin terangsang saja jadinya, jari tengah dan jari manis tangan kananku mulai kumasukkan ke dalam liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku. Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama agak sulit masuk, namun lama-lama setelah melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah sehingga memudahkan jari-jariku masuk menembus liang vaginaku.

Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku. Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.

Aku juga sepertinya akan segera mencapai puncak kenikmatan. Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kocokkan makin cepat, sementara tangan kiriku juga mulai ikut aktif membantu, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh.

"Ooh.. Oocch! Aa.. Aacch!", badanku berguncang keras sehingga air dalam bathtub banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku.

Cerita Dewasa : "Hilangnya Perawanku"

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami berdua 
sampai di perumahan tempat kakak laki-laki mas Ari, cowok yang 
sedang mendekati aku, yang sedang kosong itu. Dia ganteng dan 
badannya keker, aku suka dia mendekatiku walaupun beda 
umurnya jauh denganku. Setelah menutup pagar depan, segera dia 
mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Dia segera memeluk 
tubuhku dan dengan sedikit bernafsu segera disosornya pipiku 
dengan bibirnya. Aku sangat terkejut melihat ulahnya, "Eeeh Mas, 
kok gitu sih " kataku memandangnya sambil melotot. Namun sambil 
tersenyum dia segera meraih tan

Sabtu, 18 April 2015

Cerita Dewasa : "Kenikmatan dari Toko Buku"

Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.
Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.
Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera

Cerita Dewasa : "Kisah dari Bukit Barisan"

Sore itu aku sedang berada di atas kereta api dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, setelah tugas dari kantor selesai dilaksanakan. Ketika melewati daerah Padalarang, diluar jendela kereta terlihat hamparan sawah yang terjepit diantara kampung dan perbukitan. Aku jadi teringat kampung halamanku. Lamunanku membawa aku kembali ke kampungku....LIMA BELAS TAHUN YANG SILAM.... * 

Aku tinggal di sebuah kampung di pedalaman pulau Sumatera yang dikelilingi oleh pegunungan. Sebagian besar penduduk dikampung kami berprofes

Cerita Dewasa : "Kejutan di Malam Pengantin"


"Dengan ini saya meresmikan David Wijaya dan Yulia Huang sebagai suami istri."

Kata-kata pastur terngiang-ngiang di telinga David. Ia menatap istrinya. Tinggi Yulia tidak lebih dari 155 cm sedangkan David 170 cm. Wajah cantiknya sedikit bulat dibingkai oleh rambut sedikit kemerahan. Kedua matanya yang besar menatap balik David. Kulitnya halus berkilau ditimpa cahaya lilin. Pandangan David beralih ke pundak istrinya yang putih mulus, beralih ke leher yang terlihat lebih jenjang dengan rambut yang disanggul, dan akhirnya ke belahan lembut payudara Yulia yang walaupun tidak terlalu besar namun mempunyai bentuk yang sempurna. Tidak banyak yang berubah dari pe

Cerita Dewasa : "Souvenir Cantik Dari Pernikahan Teman"

Mendatangi pernikahan teman sebetulnya hal yang cukup menyebalkan. Menghadapi berbagai pertanyaan seperti, “Kapan nyusul?”, atau “Undangan dari kamu kapan?” cukup membuatku kesulitan mencari cara untuk menjawabnya. 
Aku Panji, 28 tahun. Usia yang sudah sepantasnya menikah seperti kebanyakan teman-temanku. Namun sayangnya aku masih hidup sendiri. Bukan tanpa alasan, aku pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita tapi sayang berakhir ditengah jalan. Berbagai macam alasan terjadi, beda agama lah, pacaran jarak jauh lah, dan yang terakhir karena orang tuanya ingin anaknya cepat-cepat ditimang. Bukannya aku tidak mau menikahi pacarku itu, tapi aku masih pekerja kelas bawah dengan

Cerita Dewasa : "Awalnya dari servis AC"

Aku tinggal disatu rumah besar yang dijadikan kantor, karyawannya lumayan banyak, selain staf admin, ada juga petugas luar, sopir dan satpam. Karena rumahnya besar makan ruangannya cukup banyak sehingga lega sekali kantornya. Tugasku adalah membersihkan kantor sebelum jam kerja serta merapikan kantor setelah karyawan pulang, menyiapkan minuman, membelikan makan siang dan aku juga dipasrahi beberapa kerjaan admin ringan termasuk merawat ac yang jumlahnya cukup banyak. Setiap ruang ada ac nya, malah di ruang yang besar dipasangi 2 ac sehingga hawanya cukup sejuk. Yang setiap hari ada di kantor adalah staf admin, petugas luar ya tugasnya keliling ke customer, menagih dan mengirimkan surat/dokumen penting. Sopir hanya melayani ownernya, sedang satpam sebenar

Cerita Dewasa : "Nafsu Besar Customerku"

Sejak ikutan nungguin posko mudik salah satu operator selular itu, aku ditawari bekerja parttime di salah satu cabangnya yang ada dideket rumahku. Aku sih mau aja, kerjaannya enteng, ketemu banyak orang dan temen2nya asik2 semuanya. Mana ada kan kerjaan senyaman itu. Gaji mah jadi nomer 2 buatku. Setelah mendapatkan training singkat mengenai teknis pekerjaan, aku mulai bekerja di kantor itu. Kalo ada customer yang datang dengan membawa masalah yang komplex, aku didampingi oleh temenku yang senior (maksudnya yang dah banyak pengalamannya, bukan yang SENeng Istri ORang lo). Tidak susah mempelajari semua teknis pekerjaannya, sehingga setelah lewat masa percobaan, aku dah bisa dilepas. Masih juga sih kalo ada customer yang menanyakan masalahnya yang aku tidak mengerti, aku minta bantuan dari temen2 yang lain. Mereka dengan segala

Jumat, 17 April 2015

Cerita Dewasa : "Diperkosa Dirumah Sendiri"

Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak, suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Saat itu usia perkawinan kami baru menginjak tahun kedua. Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkawinan untukku, suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.